4/April/2026) Jakarta – Dalam sebuah forum yang membahas isu perdamaian dan dinamika global, Ketua BKN Gus Rofi’i menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap keterlibatan Indonesia dalam berbagai kerja sama internasional, termasuk skema yang ia sebut sebagai BOP.
Menurutnya, posisi Indonesia harus tetap berlandaskan pada prinsip kedaulatan dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan pihak luar.
“Rakyat hanya bisa memberi masukan. Tapi ke depan, kami berharap Indonesia bisa berdiri tegak dengan prinsip kedaulatannya sendiri, tidak mudah terbawa arus tekanan dari pihak manapun,” ujar Gus Rofi’i.
Acara tersebut turut menghadirkan sejumlah tokoh sebagai pembicara, di antaranya Muhammad Ali Rahman, KH. Rahmat Zailani Kiki, KH. Alawi Nurul Alam, serta TB. Mogi Nur Fadhil yang memberikan berbagai perspektif terkait isu kebangsaan dan kemanusiaan.
Selain membahas geopolitik, Gus Rofi’i juga menyinggung perbedaan mazhab dalam Islam, khususnya antara Sunni dan Syiah. Ia mengajak seluruh pihak untuk tidak terjebak dalam perdebatan yang berlarut-larut, melainkan kembali pada nilai-nilai universal agama.
“Jika kita masih sibuk memperdebatkan perbedaan fikih, kita justru kehilangan inti ajaran: kasih sayang dan keadilan. Yang terpenting adalah kita berpihak pada kebenaran dan melindungi sesama manusia,” jelasnya.
Di akhir pernyataannya, Gus Rofi’i menyampaikan harapan kepada Presiden Prabowo Subianto agar mampu menunjukkan kepemimpinan yang tegas dalam merespons berbagai isu global, khususnya yang menyangkut keadilan dan kemanusiaan.
“Sebagai pemimpin bangsa, keberanian untuk bersikap adalah kunci. Minimal, dunia harus mendengar suara Indonesia yang menolak ketidakadilan. Itu bentuk tanggung jawab moral seorang presiden,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam percaturan global, melainkan aktif menyuarakan kebenaran.
“Kami ingin melihat Indonesia yang tidak hanya diam, tapi aktif menyuarakan apa yang benar. Itu harapan kami bersama,” tutup Gus Rofi’i.