Jakarta -Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menggelar konferensi pers daring melalui Zoom, pada Rabu, 19 November 2025, dalam rangka memperingati World COPD Day dan Pulmonary Hypertension Awareness Month 2025. Acara berlangsung pukul 12.00–13.15 WIB dan menghadirkan para dokter spesialis paru sebagai narasumber.
Narasumber: Prof. dr. Ratnawati, MCH, Sp.P(K), PhD, Dr. dr. Edward Pandu Wiriansya, Sp.P(K), AHK(K), FISR, dr. Arief Bakhtiar, Sp.P(K),dr. Hendris Utama Citra Wahyudin, Sp.P
Dalam kesempatan tersebut, PDPI menegaskan bahwa dua penyakit besar — Penyakit Paru Obstruktif Kronik (COPD) dan Hipertensi Paru (Pulmonary Hypertension) — masih menjadi tantangan besar di Indonesia karena sering terdiagnosis terlambat.
COPD: Gejala Sesak Napas Harus Diwaspadai,Ketua PDPI, Prof. dr. Ratnawati, MCH, Sp.P(K), PhD, menyoroti pentingnya mengenali gejala COPD melalui tema global “Short of Breath, Think COPD”.
“Sesak napas yang tidak membaik bukan keluhan biasa. Banyak pasien baru datang ketika kondisinya sudah berat. Padahal COPD bisa dikendalikan bila terdeteksi sejak awal,” ujar Prof. Ratnawati.
Ia menjelaskan bahwa faktor risiko terbesar COPD adalah paparan asap rokok, polusi udara, dan iritan lainnya yang merusak saluran napas dalam jangka panjang.
Hipertensi Paru: Penyakit Serius Namun Sering Terabaikan, Sementara itu, Dr. dr. Edward Pandu Wiriansya, Sp.P(K), AHK(K), FISR, menjelaskan bahwa hipertensi paru adalah penyakit kronik yang sering disalahartikan sebagai gangguan jantung atau penyakit napas lain. Tema yang diangkat tahun ini adalah “Emphasize Your Health”.
“Hipertensi paru dapat menyebabkan gagal jantung kanan bila tidak ditangani. Banyak pasien terlambat terdiagnosis karena gejalanya samar. Edukasi publik menjadi kunci untuk menyelamatkan lebih banyak pasien,” tegas Dr. Edward.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 25 juta orang di dunia hidup dengan hipertensi paru, namun banyak yang belum terdeteksi.
Materi Awam untuk Masyarakat Dalam konferensi pers ini, PDPI juga menghadirkan sesi edukasi awam: dr. Arief Bakhtiar, Sp.P(K) menjelaskan dasar-dasar COPD dan pentingnya berhenti merokok sebagai pencegahan utama.
dr. Hendris Utama Citra Wahyudin, Sp.P memaparkan gejala hipertensi paru, termasuk mudah lelah dan pembengkakan tungkai, yang sering tidak disadari masyarakat.
PDPI Ajak Masyarakat Lebih Peduli Kesehatan Paru, PDPI menekankan sejumlah langkah penting untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat, antara lain:
Mengenali gejala awal sesak napas kronik.
Melakukan pemeriksaan paru-jantung rutin, terutama untuk kelompok risiko tinggi.
Menghindari rokok dan paparan polusi.
Menerapkan gaya hidup sehat dan aktif.
Mendukung kampanye serta penelitian terkait deteksi dini hipertensi paru.
“COPD dan hipertensi paru tidak boleh dianggap remeh. Keduanya sama-sama memerlukan deteksi dini agar pasien bisa memperoleh terapi tepat waktu,” kata Prof. Ratnawati.
PDPI menutup kegiatan ini dengan komitmen untuk terus memperkuat kampanye kesehatan paru melalui edukasi digital, webinar nasional, penyuluhan di fasilitas kesehatan, serta advokasi kebijakan terkait akses obat dan fasilitas diagnostik di Indonesia.