BNN Ungkap Bahaya Vape, Pesantren Diminta Waspada
Jakarta Selatan 17/April 2026 – Badan Narkotika Nasional (BNN) mengingatkan bahaya serius di balik penggunaan rokok elektronik (vape), yang kini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga berpotensi menjadi media penyalahgunaan narkotika.
Peringatan tersebut disampaikan dalam seminar “Vape Dalam Bahaya: Sosialisasi Bahaya Penggunaan Vape untuk Pesantren” yang digelar di kawasan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, hasil kolaborasi BNN, BKN, dan RMI NU DKI Jakarta.
Hadir sebagai pembicara
Deputi Hukum dan Kerja Sama BNN RI
Irjen Pol.Drs.Agus Irianto,S.H.,M.Si.,M.H.,Ph.D.
,Muhammad Rofi’i mukhlish – ketua umum BKN,
kh rakhmad zailani kiki – ketua RMI Nu dki,
Prof. Dr. Drs. A. Hanief Saha Ghafur, M.S.
Tidak Ada Vape yang Aman
Deputi Hukum dan Kerja Sama BNN RI, Agus Irianto, menegaskan bahwa semua jenis vape memiliki risiko berbahaya, Tidak Ada Vape yang Aman, Bahkan yang tidak mengandung narkotika tetap mengandung zat karsinogenik dan berbahaya bagi tubuh,” tegasnya.
Ia juga mengungkap, perangkat vape kini mulai dimanfaatkan sebagai media baru untuk konsumsi narkotika, termasuk jenis-jenis baru yang terus bermunculan.
Pelarangan Total Masih Dikaji, Meski dinilai berbahaya, pelarangan total vape belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. BNN menyebut, kebijakan tersebut membutuhkan kajian mendalam dan koordinasi lintas kementerian.
Menurut Agus, pihaknya tengah melakukan penelitian bersama berbagai pihak, mulai dari Kementerian Kesehatan, BPOM, hingga akademisi.
“Kita butuh proses. Tapi jangan sampai terlambat dan korban semakin banyak,” ujarnya.
Modus Baru: Narkoba Masuk Lewat Cairan Vape. BNN menemukan indikasi bahwa cairan vape dapat dicampur dengan narkotika, termasuk narkotika sintetis atau new psychoactive substances (NPS).
“Modusnya terus berkembang. Sekarang lewat vape, besok bisa lewat bentuk lain. Ini yang harus diantisipasi,” katanya.
Pesantren Jadi Target Edukasi
Ketua RMI NU DKI Jakarta, Rakhmad Zailani Kiki, menilai penggunaan vape harus dicegah karena membawa dampak kemudaratan.
“Fokus kita adalah pencegahan, Jangan sampai santri terpapar karena lingkungan yang semakin terbuka,” ujarnya.
NU Jadi Basis Sosialisasi
Sementara itu, Muhammad Rofi’i Mukhlish menyebut pesantren sebagai titik strategis untuk edukasi.
“Mayoritas masyarakat Indonesia adalah warga NU. Maka sosialisasi paling efektif dimulai dari pesantren,” katanya.
Ancaman Nyata Generasi Muda
Dengan desain menarik, aroma wangi, dan akses yang mudah, vape dinilai semakin sulit dikontrol, terutama di wilayah perkotaan seperti Jakarta.
Seminar ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk mencegah meluasnya penggunaan vape serta potensi penyalahgunaannya.