Digitalnewsindo.net)Jakarta – Di tengah derasnya arus informasi digital, Barisan Ksatria Nusantara (BKN) dan PWI Laskar Sabilillah menyoroti pentingnya penguatan literasi publik sebagai benteng menghadapi disinformasi dan polarisasi sosial.
Ketua Umum BKN, Gus Rofii, menyampaikan bahwa tantangan terbesar masyarakat saat ini bukan hanya persoalan perbedaan pandangan, tetapi derasnya informasi yang tidak terverifikasi. Menurutnya, masyarakat perlu lebih cermat dalam menyaring berita agar tidak mudah terjebak dalam framing yang memecah belah.
“Di era digital, siapa pun bisa membuat narasi. Karena itu, publik harus punya daya saring. Jangan setiap informasi langsung dipercaya tanpa klarifikasi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian dari dinamika demokrasi, namun harus dibangun di atas data dan etika. Gus Rofii juga mengajak generasi muda, khususnya kalangan santri dan mahasiswa, untuk aktif mengedukasi lingkungan sekitarnya agar lebih bijak bermedia sosial.
Senada dengan itu, Ketua Umum PWI Laskar Sabilillah, Gus Abbas, menyatakan bahwa organisasi yang dipimpinnya tengah mendorong gerakan edukasi berbasis komunitas. Program tersebut difokuskan pada diskusi kebangsaan, penguatan nilai toleransi, serta pelatihan literasi digital.
“Kita ingin masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tapi juga mampu menjadi agen penyejuk. Media sosial harus menjadi ruang dakwah yang mencerahkan, bukan ruang saling menyerang,” katanya.
Menurutnya, kolaborasi antara tokoh agama, tokoh adat, dan komunitas lokal menjadi kunci dalam menjaga harmoni sosial. Ia menilai bahwa pendekatan kultural lebih efektif dalam membangun kesadaran publik dibandingkan konfrontasi.
Juru Bicara PWI Laskar Sabilillah, Andi Rustono, menambahkan bahwa pihaknya membuka ruang dialog dengan berbagai elemen masyarakat. “Komunikasi yang sehat adalah fondasi persatuan. Kita ingin menghadirkan ruang diskusi yang produktif dan solutif,” ujarnya.
Melalui pendekatan edukatif dan dialogis, kedua organisasi berharap masyarakat semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan serta mampu menjaga persatuan bangsa di tengah dinamika informasi yang kian kompleks.