Haris Wahyudi Ketua Umum Partai Ponsel
Jakarta,19 September 2017-Ide pendirian partai Ponsel ini tercetus ketika kami berdiskusi tentang buku biografi Bung Karno, yaitu “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Dalam buku itu dikisahkan pada dasawarsa 1920 an, HOS Cokroaminoto yang merupakan mertua Bung Karno telah dipenjara oleh penjajah Belanda. Sebagai bentuk tanggung jawab seorang menantu, maka Bung Karno mengajukan cuti kuliah untuk pulang ke Surabaya dan bekerja di perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, yaitu Stat Spoor en tramwegen. Dengan bekerja di perusahaan tersebut, Bung Karno bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu keluarga mertuanya. Sejujurnya, kami tersentak dengan kisah sejarah di buku itu, karena kami mendapati paradoks luar biasa bila dibandingkan dengan jaman sekarang. Paradoks nya adalah: kehidupan di jaman penjajahan seharusnya lebih sulit dibanding masa kemerdekaan sekarang ini, tapi. yang terjadi adalah sebaliknya. Faktanya, di era kemerdekaan sekarang ini, hampir tidak mungkin seorang mahasiswa Indonesia bisa cuti untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang bisa dipakai untuk menghidupi sebuah keluarga, tapi itu bisa terjadi di masa penjajahan. Sungguh. paradoks, kemerdekaan seIama 72 tahun temyata hanya membuat rakyat Indonesia semakin sulit mendapatkan pekerjaan.
Sebagai kumpulan alumni yang pernah kuliah di luar negeri dengan beasiswa dari rakyat Indonesia, tentu saja paradoks tersebut telah menggelorakan semangat kami untuk bisa berbuat lebih bagi rakyat Indonesia. Jiwa kami terpanggil, tidak saja oleh rasa patriotisme, tapi juga faktor hutang budi pada rakyat di negeri ini Selama ini, kami memang telah berusaha sekuat tenaga lewat jalur teknologi, sesuai pendidikan kami untuk mengisi kemerdekaan Indonesia ini. Namun perjuangan kami tidak bisa optimal, karena bagaimana pun yang menjadi panglima sekaligus nakhoda negeri ini adalah politik, karena jalur politik lah yang bisa menempatkan orang-orang menjadi penguasa dan pembuat kebijakan di negeri ini. Yang menyedihkan, banyak kebijakan dibuat justru bumerang yang menghancurkan perkembangan teknologi di negeri ini, kerana impor terus diperbesar sehingga produk asli bangsa ini mati, ketidak berpihakan pemerintah membuat realisasi sebuah inovasi menjadi produk massal sangat sulit, pun demikian dengan kebijakan finansial juga tidak condong pada perusahaan berbasis teknologi milik anak bangsa. Kebijakan-kebijakan yang tidak tepat sasaran itu adalah borgol yang membelenggu kreativitas dan inovasi dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Atas dasar fakta-fakta memprihatinkan tersebut, maka untuk bisa berbuat lebih banyak untuk rakyat, maka kami tidak bisa terus-menerus di dalam tempurung teknologi, kami harus hijrah ke dunia yang lebih luas, yaitu politik. Ibarat kata, demi bisa menghasilkan panen raya untuk rakyat, maka kami tidak saja bekerja dengan cangkul teknologi kami, tetapi juga memerlukan traktor politik. Kekuatan politik bagi kami, tak Iebih dari lengan-lengan robot exoskeleton yang bisa menyokong keterbatasan otot Iengan kami untuk menyejahterakan rakyat. Demi rakyat, kami suka tidak suka, mau tidak mau, siap tidak siap harus terjun berjuang ke bidang politik. Mendirikan partai politik. Mendirikan partai Ponsel So, let it be. May God help us all. Sepanjang sejarah Indonesia, partai-partai selalu didirikan oleh para politikus dengan tujuan untuk meraih kursi kekuasaan nantinya. Berbeda dengan partai-partai tersebut, partai Ponsel didirikan oleh para insinyur yang terdorong untuk memberikan solusi terhadap krisis multidimensi bangsa ini. Partai Ponsel adalah partai yang didirikan dengan “insting insinyur”, bukan naluri politik, karena pendirinya bukanlah.
Orang-orang yang berlatar belakang pendidikan politik ataupun sempalan dari partai politik. Karena insting insinyur inilah, maka langkah kami lebih dituntun oleh hubungan-hubungan logis, bukan kompromi-kompromi politik; pada akhimya kami dikenal sebagai kaum kacamata kuda dalam memandang dunia atau istilahnya brutally honest-tidak terlalu perduli dengan tanggapan emosional, yang panting sesuai dengan pakem kejujur-an. Kami rela dicap sebagai partai yang brutal, tidak santun, dan tuduhan miring lainnya, asal bisa menyuarakan kejujuran.

Insting insinyur juga mengharuskan kami untuk punya dedikasi dan keahlian dalam melakukan aksi, sehingga dokumen perencanaan bisa menjadi kenyataan, desain menjadi barang, yang teoritis menjadi praktikal. Oleh karena itu, ketika melahirkan partai Ponsel ini, kami pun langsung melakukan aksi atau memanifestasikan manifesto membuat program kerakyatan ‘di bawahpayung www.nikahsirri.com mi. Program ini bisa dikatakan satu-satunya program yang ada
di Indonesia yang bisa membantu keluarga miskin yang tak punya aset, alat produksi ataupun keahlian. Ini menjadi solusi bagi masalah pengangguran yang paling pelik akibat rendahnya kualitas SDM yang minim pendidikan serta pengalaman. Selain itu, program nikahsirri.com juga merupakan gerakan redistribusi aset yang tepat sasaran, karena dengan adanya kegiatan ini, maka aset yang terkumpul di sebagian masyarakat bisa terdistribusi ke keluarga pasangannya yang lebih miskin. Jadi, Nikahsirri.com adalah pengejawantahan “konsep baru yang brutally honest” bahwa kelamin juga merupakan aset yang bisa dijadikan sebagai alat produksi untuk pemasukan dana bagi’ keluarga, yang sama halalnya dengan alat-alat produksi selama ini dikenal, seperti otak (bagi pekaja kerah putih) dan otot (bagi pekerja kerah biru). Sekaligus menjadi gerakan nasional untuk menghindarkan rakyat dari perzinahan, karena Nikahsirri.com akan mampu membuat kaum pezinah migrasi menjadi pasangan suami istri.
Program nikahsirri.com menunjukkan bahwa partai Ponsel sebagai partai berbisnis dan berorientasi ekonomi, baik untuk kepentingan rakyat dan partai sendiri. Tujuan utama konsep partai berbisnis adalah untuk menghindari terjadinya korupsi keuangan negara oleh para kadernya dalam rangka pembiayaan operasional partai. Dijaman Orde Lama, partai-partai politik dengan jujur mengakui mereka punya bisnis media massa untuk pembiayaan partai. Namun sayang, di jaman sekarang ini telah
Keluar UU Nomor 2 Tahun 2008 pasal 40 ayat 4, yang isinya “partai politik dilarang mendirikan badan usaha dan atau memiliki saham suatu badan usaha”. Isi dari ayat tersebut memang terdengar sedap di telinga karena memberikan imet partai yang hanya fokus membuat gerakan untuk rakyat, namun munafik terkait asal dana untuk membiayai gerakan-gerakan tersebut. Partai Ponsel sebagai partai yang brutally honest memelopori gerakan agar ayat itu direvisi atau dihapus. Bagi kami, biarlah partai mempunyai badan usaha dan/atau saham agar jelas darimana sumber keuangannya. Ditambah lagi, dengan partai mempunyai badan usaha atau saham, maka ini menjadi uji coba partai tersebut dalam mengelola bisnis; sehingga kalau gagal, maka bisa menjadi bukti mereka tak akan mampu mengeloia ekonomi negara apabila keuangan sendiri saja berantakan. Bagi kami, biarlah partai dicap sekasar mata duitan karena punya bisnis, tapi mendapatkan dana yang jujur, legal dan halal; dibanding tcrlihat mulia-takvsuka-duit, tapi munafik secara diam-diam meininta kademya korupsi uang negara untuk pembiayaan partai.
Insting insinyur telah mengharuskan kami untuk bekerja dengan menggunakan metoda, alat, serta strategi terbaru dan paling modern. Jadi, bagi kami, modernitas adalah keharusan, modernitas adalah tuntutan dalam lingkungan kerja kami. Budaya kami akan modernitas dalam pengembangan teknologi juga diaplikasikan pada kegiatan politik di partai Ponsel. Kami selalu dan akan terns menginisiasi (startup)paradigma-paradigma politik yang terbaru dan termodern. Kami mengadopsi modernitas di setiap kehidupan kami. Kami berbeda dengan partai-partai lain yang kader-kademya memakai gadget-gadget modem, tapi paradigma dan prinsip hidupnya masih tetap kuno.
Namun kami akui, dengan menjadi startup paradigma politik yang tetbaruam pasti akan menimbulkan efek disruptive; sebagaimana kerikil yang jatuh di permukaan kolam yan tenang, akan timbul riak, dan dimungkinkan juga kebisingan. Namun, kami berharap rakyat bisa mengerti bahwa gejolak disruptive berbeda dengan kebenaran. Sebagaimana Gojek yang menimbulkan kebisingan di tingkat ojek pangkaian dari sopir taksi, itu bukan karena Gojek adalah pembuat keonaran, tetapi karena dampa ingkungan yang terkena gelombang disruptive saja. Di dunia demokrasi sendiri.(DL)

You may also like

Leave a Comment

content-ciaa-1701

yakinjp


sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

judi bola online

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

ayowin

mahjong ways

judi bola online

mahjong ways 2

JUDI BOLA ONLINE

maujp

maujp

sabung ayam online

maujp

maujp

maujp

maujp

MAUJP

sabung ayam online

mahjong ways slot

sbobet88

live casino online

Situs Agen Togel

MAUJP

sv388

maujp

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

118000126

118000127

118000128

118000129

118000130

118000131

118000132

118000133

118000134

118000135

118000136

118000137

118000138

118000139

118000140

118000141

118000142

118000143

118000144

118000145

118000146

118000147

118000148

118000149

118000150

118000151

118000152

118000153

118000154

118000155

118000156

118000157

118000158

118000159

118000160

118000161

118000162

118000163

118000164

118000165

118000166

118000167

118000168

118000169

118000170

128000136

128000137

128000138

128000139

128000140

128000141

128000142

128000143

128000144

128000145

128000146

128000147

128000148

128000149

128000150

128000151

128000152

128000153

128000154

128000155

128000156

128000157

128000158

128000159

128000160

128000161

128000162

128000163

128000164

128000165

128000166

128000167

128000168

128000169

128000170

128000171

128000172

128000173

128000174

128000175

138000111

138000112

138000113

138000114

138000115

138000116

138000117

138000118

138000119

138000120

138000121

138000122

138000123

138000124

138000125

138000126

138000127

138000128

138000129

138000130

138000131

138000132

138000133

138000134

138000135

138000136

138000137

138000138

138000139

138000140

148000146

148000147

148000148

148000149

148000150

148000151

148000152

148000153

148000154

148000155

148000156

148000157

148000158

148000159

148000160

148000161

148000162

148000163

148000164

148000165

148000166

148000167

148000168

148000169

148000170

148000171

148000172

148000173

148000174

148000175

168000116

168000117

168000118

168000119

168000120

168000121

168000122

168000123

168000124

168000125

168000126

168000127

168000128

168000129

168000130

168000131

168000132

168000133

168000134

168000135

168000136

168000137

168000138

168000139

168000140

168000141

168000142

168000143

168000144

168000145

178000136

178000137

178000138

178000139

178000140

178000141

178000142

178000143

178000144

178000145

178000146

178000147

178000148

178000149

178000150

178000151

178000152

178000153

178000154

178000155

178000156

178000157

178000158

178000159

178000160

178000161

178000162

178000163

178000164

178000165

178000166

178000167

178000168

178000169

178000170

178000171

178000172

178000173

178000174

178000175

178000176

178000177

178000178

178000179

178000180

188000206

188000207

188000208

188000209

188000210

188000211

188000212

188000213

188000214

188000215

188000216

188000217

188000218

188000219

188000220

188000221

188000222

188000223

188000224

188000225

188000226

188000227

188000228

188000229

188000230

188000231

188000232

188000233

188000234

188000235

198000111

198000112

198000113

198000114

198000115

198000116

198000117

198000118

198000119

198000120

198000121

198000122

198000123

198000124

198000125

198000126

198000127

198000128

198000129

198000130

198000131

198000132

198000133

198000134

198000135

198000136

198000137

198000138

198000139

198000140

238000106

238000107

238000108

238000109

238000110

238000111

238000112

238000113

238000114

238000115

238000116

238000117

238000118

238000119

238000120

238000121

238000122

238000123

238000124

238000125

238000126

238000127

238000128

238000129

238000130

238000131

238000132

238000133

238000134

238000135

238000136

238000137

238000138

238000139

238000140

238000141

238000142

238000143

238000144

238000145

238000146

238000147

238000148

238000149

238000150

content-ciaa-1701